Kamis, 28 November 2013

Aneka Warna Daster Lowo (Kelelaawar), berbahan Santung

Rp 65.000
 Daster lawa memakai bahan santung Sritek, yang memiliki serat benang tebal.Sehingga nyaman dipakai, dan mampu menyerap keringat.
Rp.65.000
Harga 65.000
Harga Rp. 65.000



Aneka Corak Warna Daster Kaos Tulis

Harga Rp 70.000
 Pengerjaan  pembuatan daster berbahan kaos dilakukan secara tradisional. Yang menggunakan bahan kaos jenis 30S.Lebih tebal, dan mampu menyerap keringat. Karena berbahan katun 100 persen.
Harga Rp 70.000
Harga Rp 70.000
Harga Rp 70.000




Aneka warna Kaos Tulis Berbahan Katun 100 Persen

 Kaos tulis warna cokelat , harga Rp 60.000
 Kaos tulis warna biru, harga Rp.60.000
 Kaos tulis warna cokelat tanah, harga Rp 60.000
 Kaos tulis warna hijau, harga Rp 60.000




Aneka Warna Hem Cap Berbahan Katun 100%

 Hem cap motif seno warna hijau. Harga Rp 75.000
 Hem cap motif seno, warna biru. Harga 75.000
 Hem cap motif seno, warna cokelat. Harga 75.000
 Hem cap motif seno, warna merah. Harga 75.000

Jumat, 22 November 2013

Pembatik Sepuh Akan Terima Bantuan Kacamata

KURIPAN KIDUL - Bantuan kacamata sebanyak 200 buah akan diberikan kepada para pembatik sepuh yang masih aktif namun terkendala pada penglihatannya yang telah mengalami kerabunan. Kegiatan pemberian bantuan kacamata ini, dilakukan untuk melestarikan batik sekaligus merupakan bentuk kepedulian terhadap perajin batik sepuh. Demikian disampaikan oleh Ketua PKK Kota Pekalongan, Balgies Diab beberapa waktu yang lalu.

Para perajin batik sepuh biasanya orang-orang yang telah memiliki karya yang halus karena pengalamannya yang telah lama dalam menghasilkan batik-batik tulis. "Karya yang dihasilkan oleh perajin-perajin batik sepuh biasanya lebih bagus dan halus. Sehingga, untuk tetap melestarikan hasil karya mereka, PKK berkeinginan untuk memberikan bantuan kacamata agar tetap dapat berkarya dengan baik," bebernya.

Nantinya, bantuan tersebut akan diberikan dengan melakukan kerjasama bersama Dekranasda dan pihak sponsor lainnya yang memiliki kepedulian terhadap batik Kota Pekalongan. "Pemberian bantuan tersebut rencananya akan dilakukan pada waktu Hari Ibu yang akan jatuh pada 22 Desember nanti. Mereka yang akan mendapatkan bantuan, berasal dari perajin batik yang memiliki usia 50 tahun keatas," katanya. (yog)

Senin, 18 November 2013

Trusmi, Akar Cerita Batik Cirebon

AdBATIK - Budaya luar menularkan warna-warna cerah batik Cirebonan.

KAMPUNG Trusmi, yang terletak di Kecamatan Plered, Cirebon dikenal sebagai salah satu sentra industri batik di Indonesia. Bukan sepuluh atau dua puluh tahun belakangan kampung itu "ditumbuhi" pembatik. Trusmi sudah menjadi kampung batik sejak abad ke-14.
Setidaknya 3.000 perajin batik tulis maupun batik cap tinggal di kampung Trusmi. Lebih dari sekadar profesi, membatik sudah menjadi bagian dari gaya hidup, saking mengakarnya.
Awalnya batik asal Cirebon atau yang dikenal dengan Cirebonan merupakan batik bermotif terbatas. Namun sejarah Cirebon sebagai kota persinggahan para pedagang Arab, Persia, India, dan Tiongkok mengubah gaya sederhana batik Cirebon.Batik tampil lebih berani dengan pewarnaan terang seperti biru cerah, cokelat, hijau muda, merah, atau juga merah muda yang dipengaruhi budaya Tiongkok. Begitu juga dengan motif awan yang berbentuk bulatan khas Tiongkok. Dari motif itu, perajin lalu menciptakan motif Mega Mendung. Yakni motif awan dengan segitiga lancip di bagian ujungnya.Motif lain yang dipengaruhi budaya Tiongkok adalah motif Paksi Naga Liman. Bedanya, motif ini juga dipengaruhi budaya India. Motif-motifnya menggambarkan peperangan. Lain lagi dengan cerita motif yang ditularkan oleh para pedagang Belanda, yakni motif bunga tulip dan kereta kuda yang kerap disebut Batik Kompeni. 
Meski banyak mengadaptasi motif dari luar, motif tradisional Cirebon seperti keraton, singa barong, dan singa payung masih dipertahankan. Batik tradisional ini digunakan dalam upacara-upacara adat setempat. Selamat Hari Batik! (vi)

Minggu, 17 November 2013

Pengrajin Batik Disandera Para Pemangku Kepentingan

KOTA - Ketidakstabilan harga bahan baku batik, bahkan cenderung terus menerus mengalami lonjakan, dinilai oleh Harris Riadi, salah seorang pengrajin batik di Kota Pekalongan, sebagai bentuk penyanderaan para pemangku kepentingan kepada para pengrajin batik. Melonjaknya harga bahan baku batik, disinyalir karena ada permainan.
"Kondisi saat ini, nasib para pengrajin batik menengah ke bawah seperti dibunuh terang-terangan oleh situasi. Nasib pengrajin batik, 70 persennya disandera oleh para pemangku kepentingan. Nasib para pembatik jadi tidak jelas. Nasib mereka disandera. Lagi-lagi, wong cilik yang dikorbankan para pemangku kepentingan," ungkapnya, kemarin.
Harris menyatakan, para pemangku kepentingan yang menyandera nasib para pengrajin batik itu terdiri dari berbagai kalangan. Banyak kepentingan yang mempermainkan. Baik itu dari kepentingan dari segi perbankan, pemasaran, pemasok bahan, importir, dan lainnya.
Bahkan, pemilik usaha batik "Green Batik Harris" ini mensinyalir, para pemangku kepentingan yang berwenang mengeluarkan kebijakan penstabilan harga, belum akan peduli dengan nasib para pengrajin batik sebelum Pemilu tahun depan berakhir.
"Mereka (para pemangku kepentingan) masih sibuk mengurusi politik, paling cepat sampai Pemilu depan. Jadi, mereka tidak sempat memikirkan nasib para pembatik yang sudah menjerit akibat harga bahan baku batik yang mahal," beber seniman batik yang terkenal dengan batik dari limbah kertas semen, jins batik, hingga batik kotoran sapi ini.
Peraih penghargaan Inacraft Tahun 2013 ini mencontohkan, dalam beberapa waktu terakhir ini harga bahan baku batik terus saja merangkak naik. Seperti gondorukem, BBM Pertamina, maupun kain mori. Dalam dua hari terakhir saja, imbuh Harris, harga gondorukem sudah tembus Rp 29 ribu perkilogram. Padahal, sehari sebelumnya berada di angka Rp 27 ribu perkilo.
"Harga bahan baku susah diprediksi. Cenderung naik terus. Misal hari ini sekian ribu rupiah, besok sudah beda lagi, atau minggu depan beda lagi. Ini yang menyusahkan. Tidak ada kestabilan harga. Nggak hanya gondorukem. Tapi BBM Pertamin, kain mori, obat batik, dan lainnya," ungkapnya.
Ia mensinyalir, mahalnya harga gondorukem di pasaran lokal antara lain disebabkan banyak produk gondorukem yang diekspor ke luar negeri. Sebab, harga di luar negeri jauh lebih tinggi dibanding harga di dalam negeri.
"Jadi, gondorukem lebih banyak yang diekspor. Yang kita sayangkan, harga gondorukem di dalam negeri, yakni untuk memenuhi kebutuhan lokal, disesuaikan dengan harga untuk ekspor. Harganya sudah harga pasaran dunia. Ini yang menyulitkan para pengrajin batik, utamanya yang kelas menengah ke bawah," tandasnya.
Sementara, meski harga bahan baku naik, para pengrajin batik tidak bisa serta merta menaikkan harga produk batik mereka. "Bagaimana mau menaikkan harga jual batik di pasaran, lha wong daya beli masyarakatnya saja masih lemah. Kalau harganya dinaikkan, ya tambah tidak laku," tukasnya. (way)